Vanili, Emas Hijau Indonesia

Di tahun 2016 harga Vanili segar sekitar Rp. 250 ribu / kg, namun setahun kemudian harga nya meroket, naik lebih dari 100% yaitu Rp. 400 – Rp. 500 ribu dan ditahun ini kisaran nya mencapai kisaran Rp. 6 juta / kg dikutip dari Trubus “” suatu harga yang fantastis bukan.

Table Investasi

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wa Barokatuh,

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai “Prospek Investasi Tanah di Indonesia” dimana negara kita diberikan keberkahan yang luar biasa oleh Alloh Subhanahu Wata’ala yaitu tanah yang sangat subur, maka mimin ingin melanjutkan nya dengan tulisan ini yaitu investasi Vanili, Emas Hijau Indonesia.

Dikutip dari Liputan6.com, dimana produk Vanili Indonesia adalah produk yang paling berkualitas, bahkan mengalahkan negara asalnya Meksiko dengan nama daerah Panili atau Perneli.

Di tahun 2016 harga Vanili segar sekitar Rp. 250 ribu / kg, namun setahun kemudian harga nya meroket, naik lebih dari 100% yaitu Rp. 400 – Rp. 500 ribu dan ditahun ini kisaran nya mencapai kisaran Rp. 6 juta / kg dikutip dari Trubus “” suatu harga yang fantastis bukan.

Berapa lama panen vanili ?, dikutip dari Trubus,com, tanaman tersebut mulai menghasilkan diusia 3 (tiga) tahun dan puncaknya pada tahun ke 6 (enam) dan akan terus menurun hingga tahun ke 10 (sepuluh), di usia tersebut tanaman tersebut sudah tidak productive lagi dan harus di tanam ulang. Namun jangan khawatir dikutip dari pertanianku.com, harga vanili akan terus meningkat hingga tahun 2028.

Saat ini mulai banyak penjualan perkebunan untuk investasi Vanili, kisaran harga nya pun cukup murah. Kareem property misalnya, untuk 100 m2 dengan 112 pohon vanili hanya dihargai Rp. 38 juta rupiah, suatu angka yang cukup murah bukan.

Semoga Alloh Subhanahu Wata’ala terus memberikan keberkahan pada negri ini dan dijauhkan dari investasi riba dan semoga para petani di Indonesia lebih makmur, Aamiin.

Wassalamualaikum  

Prospek Investasi Tanah Di Indonesia

Prospek Investasi Tanah Di Indonesia
from pixabay

Assalamualaikum

Investasi tentunya adalah sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga kita, namun bentuk investasi yang kerap kali terlintas adalah investasi pada bidang keuangan. Padahal investasi dalam bentuk tanah / lahan juga tidak kalah baik jika kita bandingkan.

Sudah umum diketahui bahwa lahan yang ada saat ini semakin lama semakin berkurang sehingga kebutuhan akan lahan atau tanah semakin meningkat, dengan meningkatnya kebutuhan tersebut maka harga tentunya meningkat.

Berikut adalah 10 provinsi dengan kenaikan harga property tertingii periode 2017 – 2018 dikutip dari detik.com (https://finance.detik.com/properti/d-4209602/10-provinsi-dengan-kenaikan-harga-properti-tertinggi-di-ri).

1. Kepulauan Riau 215.43 (20,08%)
2. DKI Jakarta 189.2 (17,55%)
3. Jawa Timur 173.34 (13,96%)
4. Banten 156.82 (11,18%)
5. Sumatera Selatan 154.54 (9.71%)
6. Jawa Barat 154.48 (10,61%)
7. DI Yogyakarta 151.15 (13,7%)
8. Nusa Tenggara Timur 150.19 (9,3%)
9. Jawa Tengah 149.59 (9%)
10. Papua 144.08 (5,6%)

Hal yang perlu dicatat tanah tidak selalu dialih fungsikan menjadi bangunan untuk perumahan untuk mendapatkan keuntungan, namun bisa digunakan juga untuk sesuatu yang productif seperti hal nya kebun. Kita harus bersyukur karena Indonesia memiliki tanah yang subur sehingga menghasilkan produk perkebunan.

Negara – negara yang tidak memiliki tanah yang subur berlomba – lomba menciptakan teknologi untuk dapat menanam sayuran dan buah agar tumbuh di negara mereka, kenapa kita hanya melirik investasi dalam bentuk keuangan tentu Ini merupakan suatu hal yang tidak tepat.

Data dari website kompas.com menunjukan nilai impor buah – buahan  pada September 2018 mengalami peningkatan 66.46% dibandingkan dengan Agustus 2018 dengan nilai 42,2 juta Dolar.

Sungguh angka yang besar, bagaimana  bila kita bisa menanam sendiri dan kita menikmati beberapa persen dari  angka tersebut bila kita produksi dan bisa menjualnya.

Kita boleh kalkulasi biaya makan dan buah sehari hari keluarga, betapa sekarang harga buah lebih mahal dibandingkan dengan makan nasi beserta lauknya.

Dengan tingkat kesadaran hidup sehat yang sudah meningkat maka sayur dan buah akan menjadi komoditi yang sangat baik untuk diinvestasikan kedepannya.

Mulailah mengganti investasi kita yang tadi nya dalam bentuk produk finansial menjadi bentuk yang lebih baik yaitu tanah produktif.

Sudah tentu dipastikan produk sayur dan buah adalah produk utama untuk kelangsungan hidup manusia tentu akan menghasilkan kebaikan, keuntungan dan keberkahan untuk kita kedepannya.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa dengan kita membeli lahan produktif maka kita pun akan mendapatkan dua keuntungan, yaitu dari harga tanah di masa mendatang dan nilai tambah yang dapat dihasilkan dari lahan produktif tersebut.